GERIATRI
1. Jelaskan
definisi geriatric menurut WHO dan Kementrian RI ?
2. Jelaskan
mengapa pemberian obat pada geriatric menjadi concern dari seorang farmasis ?
3. Jelaskan
dengan detail profil farmakokinetik (ADME) pada geriatric ?
4. Apa
saja permasalahan pengobatan yang sering muncul pada geriatric dan bagaimana
solusi dari farmasis terhadap masalah tersebut ?
5. Sebutkan
contoh-contoh obat minimal 5, yang penggunaannya harus dihindari pada geriatric
dan mengapa perlu dihindari ?
6. Bagaimana
profil farmakodinamik pada geriatric ?
Jawaban:
1.
Penuaan adalah suatu
proses giologi yang sulit dimengerti dan diterima usia lanjut (geriatri).
Menurut WHO adalah seseorang dengan umur 65 tahun atau lebih, sedangkan menurut
Departemen Kesehatan Republik Indonesia adalah mereka yang berusia di atas 60
tahun. Pada populasi umum, pengukuran kapasitas fungsional pada sebagian besar
sistem organ utama menunjukkan suatu penurunan yang bermula dari masa dewasa
muda dan yang terus berlanjut seumur hidup. Pada usia lanjut tidak kehilangan
fungsi tertentu dengan laju yang dipercepat dibandingkan dengan orang dewasa
muda dan orang dewasa paruh baya, tetapi lebih pada akumulasi lebih banyak
defisiensi seiring dengan berjalannya waktu. Perubahan tersebut menyebabkan
perubahan farmakokinetika. Hal yang paling penting adalah penurunan fungsi
ginjal (Katzung, 2004).
2. Pemberian
obat pada geriatric menjadi concern dari seorang farmasis karena
-
Perubahan fisiologi pada
lansia
Contoh
: elektrolit tubuh menurun, lemak dalam tubuh meningkat, serum albumin menurun,
pH lambung naik, kecepatan penyringan glomerulus menurun, aliran darah di hati
menurun.
-
Perubahan farmakokinetik
-
Perubahan farmakodinamik
3. Detail
profil farmakokinetik (ADME) pada geriatric, yaitu
a. Absorpsi
Perubahan dalam hal absorpsi obat
pada usia lanjut belum diketahui secara jelas, tetapi tampaknya tidak berubah
untuk sebagian besar obat. Keadaan yang mungkin dapat mempengaruhi absorpsi ini antara lain
perubahan kebiasaan makan, tingginya konsumsi obat-obat non resep (misalnya antasida,
laksansia) dan lebih lambatnya kecepatan pengosongan lambung.
b. Distribusi
Selain oleh sifat fisiko-kimiawi
molekul obat, distribusi ditentukan pula oleh komposisi tubuh, ikatan protein plasma
dan aliran darah organ, semuanya akan mengalami perubahan dengan bertambahnya usia,
akibatnya konsentrasi obat akan berbeda pada pasien lanjut usia jika
dibandingkan dengan pasien yang lebih muda pada pemberian dosis obat yang sama
(Aslam, et al.,
2003). Dengan bertambahnya usia,
prosentase air total dan masa tubuh yang tidak mengandung lemak (lean body
mass) menjadi lebih sedikit.
-
Komposisi Tubuh
Pertambahan usia dapat menyebabkan
penurunan total air. Hal ini menyebabkan terjadinya penurunan volume distribusi
obat yang larut air sehingga konsentrasi
obat dalam plasma meningkat.
Pertambahan usia juga akan meningkatkan massa lemak tubuh. Hal ini akan
menyebabkan volume distribusi obat larut lemak meningkat dan konsentrasi obat
dalam plasma turun namun terjadi peningkatan durasi obat (missal golongan benzodiazepin) dari durasi normalnya
(Aslam, et al., 2003).b. Ikatan Plasma Protein Seiring dengan pertambahan usia,
albumin manusia juga akan turun. Obat-obatan dengan sifat asam akan berikatan
dengan protein albumin sehingga menyebabkan obat bentuk bebas akan meningkat
pada pasien geriatri. Saat obat bentuk bebas berada dalam jumlah yang banyak
maka akan mengakibatkan peningkatan konsentrasi obat dalam plasma meningkat. Hal ini menyebabkan kadar
obat tersebut dapat melampaui konsentrasi toksis minimum (terlebih untuk obat-obatan
poten) (Aslam, et al., 2003). Penurunan albumin secara mencolok pada usia
lanjut umumnya disebabkan oleh menurunnya aktivitas fisik. Tetapi dapat juga
memberi petunjuk beratnya penyakit sistemik yang diderita, seperti miokard infark
akut, penyakit-penyakit inflamasi dan infeksi berat. Sehingga obat-obat
yang terutama terikat pada albumin akan lebih banyak berada dalam bentuk bebas.
Dengan kata lain, kadar obat-obat tersebut akan meningkat dalam plasma. Molekul
obat yang terikat pada albumin adalah yang bersifat asam lemah
-
Aliran Darah pada Organ
Penurunan aliran darah organ pada
lansia akan mengakibatkan penurunan perfusi darah. Pada pasien geriatri
penurunan perfusi darah terjadi sampai dengan 45%. Hal ini akan menyebabkan
penurunan distribusi obat ke jaringan sehingga efek obat akan menurun (Aslam,
et al., 2003). Obat yang mempunyai sifat lipofili yang kecil, misalnya digoksin
dan propranolol, menjadi lebih tinggi kadarnya dalam darah, walaupun pada dosis
yang lazim untuk dewasa. Untuk obat yang mempunyai sifat lipofilik yang besar,
misalnya benzodiazepin, klordiazepoksid, peningkatan komposisi lemak
menyebabkan menurunnya kadar obat dalam darah. Komposisi protein total pada
usia lanjut praktis tidak berubah, tetapi biasanya terjadi perubahan rasio
albumin globulin.
-
Eliminasi
Metabolisme hati
dan eskresi ginjal
adalah mekanisme penting
yang terlibat dalam proses eliminasi.
Efek dosis obat tunggal akan diperpanjang dan pada keadaan steady state
akan meningkat jika kedua mekanisme menurun.
c. Metabolisme
Hepar berperan
penting dalam metabolisme
obat, tidak hanya mengaktifkan obat ataupun mengakhiri aksi obat tetapi juga membantu
terbentuknya metabolit terionisasi yan lebih polar yang memungkinkan berlangsungnya
mekanisme ekskresi ginjal. Kapasitas hepar untuk memetabolisme obat tidak terbukti
berubah dengan bertambahnya umur, tetapi jelas terdapat penurunan aliran darah
hepar yang tampaknya sangat mempengaruhi kemampuan metabolisme obat. Pada usia
lanjut terjadipula penurunan kemampuan hepar dalam proses penyembuhan penyakit,
misalnya oleh karena virus hepatitis atau alkohol. Oleh sebab itu riwayat
penyakit hepar terakhir seorang lanjut
usia sangat perlu dipetimbangkan
dalam pemberian obat yang terutama dimetabolisme di hepar.
Sementara itu beberapa penyakit yang sering pula terjadi pada usia lanjut
seperti misalnya kegagalan jantung kongestif, secara menyolok dapat mengubah
kemampuan hepar untuk memetabolisme obat dan dapat pula menurunkan aliran darah
hepar.
d. Ekskresi
ginjal
Ginjal merupakan tempat ekskresi sebagian
besar obat, baik dalam bentuk aktif maupun hasil metabolitnya. Seperti halnya
dengan organ-organ yang lain, ginjal akan mengalami perubahan fisiologis dan
anatomis dengan bertambahnya umur. Dengan
menurunnya kapasitas fungsi
ginjal secara ilmiah karena usia lanjut, maka eliminasi sebagian
besar obat juga akan terpengaruh. Obat-obat yang dimetabolisme kebentuk
aktif, seperti: metildopa,
triamteren, spironolakton, oksifenbutazon,
levodopa, dan acetoheksamid mungkin akan terakumulasi karena memburuknya fungsi
ginjal pada usia
lanjut. Sementara itu
juga terdapat penurunan klirens
yang konsisten dengan bertambahnya umur.
4.
permasalahan pengobatan
yang sering muncul pada geriatric dan bagaimana solusi dari farmasis terhadap
masalah tersebut
a. Kesalahan
peresepan
Kesalahan peresepan sering kali
terjadi akibat dokter kurang memahami adanya perubahan farmakokinetika/farmakodinamika
karena usia lanjut. Sebagai contoh adalah simetidin yang acap kali diberikan
pada kelompok usia ini, ternyata memberi dampak efek samping yang cukup sering
(misalnya halusinasi dan reaksi psikotik), jika diberikan sebagai obat
tunggal. Obat ini
juga menghambat metabolisme
berbagai obat seperti warfarin, fenitoin dan beta blocker. Sehingga pada
pemberian bersama simetidin tanpa lebih dulu melakukan penetapan dosis yang
sesuai, akan menimbulkan efek toksik yang
kadang fatal karena meningkatnya kadar obat dalam darah secara mendadak.
b. Kesalahan
pasien
Secara konsisten, kelompok usia
lanjut banyak mengkonsumsi obat-obat yang dijual bebas/tanpa resep (OTC).
Pemakaian obat-obat OTC pada penderita usia lanjut bukannya tidak memberi
resiko, mengingat kandungan zat-zat aktif dalam satu obat OTC kadang-kadang belum jelas efek
farmakologiknya atau malah bersifat membahayakan. Sebagai contoh adalah
beberapa antihistamin yang mempunyai efek sedasi, yang jika diberikan pada pasien
dengan gangguan fungsi kognitif
akan memberi efek samping yang
serius. Demikian pula obat-obat dengan
kandungan zat yang mempunyai aksi antimuskarinik akan menyebabkan retensi urin
(pada penderita lakilaki) atau glaukoma, yang penanganannya akan jauh lebih
sulit dibanding penyakitnya semula.
c. Ketidak-jelasan
informasi pengobatan
Pasien-pasien usia
lanjut sering pula
menjadi korban dari
tidak jelasnya informasi
pengobatan dan beragamnya obat yang diberikan oleh dokter. Keadaan ini banyak
dialami oleh penderita-penderita penyakit yang bersifat hilang timbul (sering
kambuh). Kesalahan umumnya berupa
salah minum obat
(karena banyaknya jenis obat yang
diresepkan pada suatu saat), atau berupa ketidak sesuaian dosis dan cara
pemakaian seperti yang dianjurkan. Kelompok usia ini tidak jarang pula
memanfaatkan obat-obat yang kadaluwarsa secara
tidak sengaja, karena ketidaktahuan ataupun ketidak jelasan informasi. Dengan
demikan, pemakaian obat secara bijaksana pada penderita-penderita usia lanjut akan membantu meningkatkan
kualitas hidup dan memperpanjang usia.
5.
Contoh-contoh obat
minimal 5, yang penggunaannya harus dihindri pada geriatric dan mengapa perlu
dihindari
a. Obat-obat
sistem saraf pusat.
-
Sedativa-hipnotika
Mengingat sering diresepkannya
obat-obat golongan sedativa-hipnotika pada pasien usia lanjut, maka efek
samping obat golongan ini yang diketahui maupun tidak diketahui oleh pasien
relatif lebih sering terjadi. Pasien merasa tidak enak badan setelah bangun tidur
(dapat terjadi sepanjang hari), sempoyongan, kekakuan dalam bicara dan
kebingungan beberapa waktu sesudah minum obat. Sebagai contoh, waktu paruh beberapa obat golongan
benzodiazepin dan barbiturat meningkat sampai 1,5 kali. Namun lorazepam dan
oksazepam mungkin kurang begitu berpengaruh oleh perubahan ini. Efek samping
yang perlu diamati pada penggunaan obat sedativa-hipnotika antara lain adalah
ataksia.
-
Analgetika
Dengan menurunnya fungsi respirasi
karena bertambahnya umur, maka kepekaan terhadap efek respirasi obat-obat
golongan opioid (analgetika-narkotik) juga
meningkat. Jika tidak sangat terpaksa dan indikasi pemakaian tidak terpenuhi,
maka pemberian analgetika-narkotik pada usia lanjutnya hendaknya dihindari.
-
Antidepresan
Obat-obat golongan antidepresan
trisiklik yang cukup banyak diresepkan ternyata sering menimbulkan efek samping
pada usia lanjut, yang antara lain berupa mulut kering, retensi urin, konstipasi, hipotensi
postural, kekaburan pandangan,
kebingungan, dan aritmia jantung. Jika terpaksa diberikan, maka sebaiknya
dimulai dari dosis terendah, misalnya imipramin 10 mg pada malam hari. Selain
itu diperlukan pula pemantauan yang terus menerus untuk mencegah kemungkinan
efek samping tersebut.
b. Obat-obat
kardiovaskulera
-
Antihipertensi
Pengobatan hipertensi pada usia
lanjut sering menjadi masalah, tidak saja dalam hal pemilihan obat, penentuan
dosis dan lamanya pemberian, tetapi juga menyangkut keterlibatan pasien secara
terus menerus dalam proses terapi. Hal ini karena pengobatannya umumnya jangka panjang. Jika
terapi non-obat dirasa masih memungkinkan, pembatasan masukan garam,
latihan (exercise), dan penurunan berat badan, serta pencegahan terhadap
faktor-faktor risiko hipertensi (misalnya
merokok dan hiperkholesterolemia) perlu dianjurkan bagi pasien dengan
hipertensi ringan
-
Obat-obat antiaritmia
Pengobatan antiaritmia pada usia
lanjut akhir-akhir ini semakin sering dilakukan mengingat makin tingginya angka
kejadian penyakit jantung koroner pada kelompok ini. Namun demikian obat-obat
seperti disopiramida sangat tidak dianjurkan, mengingat efek antikholinergiknya
yang antara lain berupa takhikardi, mulut kering, retensi urin, konstipasi, dan
kebingungan. Pemberian kuinidin dan prokainamid hendaknya
mempertimbangkan dosis dan
frekuensi pemberian, karena
terjadinya penurunan klirens dan pemanjangan waktu paruh.
-
Glikosida jantung
Digoksin merupakan
obat yang diberikan
pada penderita usia
lanjut dengan kegagalan jantung atau aritmia jantung. Intoksikasi
digoksin tidak jarang dijumpai pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal,
khususnya jika kepada pasien yang bersangkutan juga diberi diuretika. Gejala
intoksikasi digoksin sangat beragam mulai anoreksia, kekaburan penglihatan, dan
psikosis hingga gangguan irama jantung yang serius. Meskipun digoksin dapat
memperbaiki kontraktilitas jantung dan memberi efek inotropik yang
menguntungkan, tetapi kemanfaatannya untuk kegagalan jantung kronis tanpa
disertai fibrilasi atrial masih diragukan.Oleh sebab itu, mengingat kemungkinan
kecilnya manfaat klinik untuk usia lanjut dan efek samping digoksin sangat
sering terjadi, maka pilihan alternatif terapi lainnya perlu dipetimbangkan lebih
dahulu. Diuretika dan
vasodilator perifer sebetulnya
cukup efektif sebagian besar penderita.
-
Antibiotika
Prinsip-prinsip dasar pemakaian
antibiotika pada usia lanjut tidak berbeda dengan kelompok
usia lainnya. Yang
perlu diwaspadai adalah
pemakaian antibiotika golongan aminoglikosida dan laktam, yang ekskresi
utamanya melalui ginjal. Penurunan fungsi ginjal karena usia lanjut akan
mempengaruhi eliminasi antibiotika tersebut, di mana waktu paruh obat menjadi
lebih panjang (waktu paruh gentasimin, kanamisin, dan netilmisin dapat
meningkat sampai dua kalilipat) dan
memberi efek toksik pada ginjal (nefrotoksik), maupun organ lain (misalnya ototoksisitas).
-
Obat-obat antiinflamasi
Obat-obat golongan antiinflamasi
relatif lebih banyak diresepkan pada usia lanjut, terutama untuk
keluhan-keluhan nyeri sendi (osteoaritris). Berbagai studi menunjukkan bahwa
obat-obat antiinflamasi non-steroid (AINS), seperti misalnya indometasin dan
fenilbutazon, akan mengalami perpanjangan waktu paruh jika diberikan pada usia
lanjut, karena menurunnya kemampuan metabolisme hepatal. Karena meningkatnya kemungkinan
terjadinya efek samping
gastrointestinal seperti nausea, diare, nyeri abdominal dan perdarahan
lambung (20% pemakai AINS usia lanjut mengalami efek samping tersebut), maka
pemakaian obat-obat golongan ini hendaknya dengan pertimbangan yang seksama.
Efek samping dapat dicegah misalnya dengan memberikan antasida secara
bersamaan, tetapi perlu diingat bahwa antasida justru dapat mengurangi
kemampuan absorpsi AINS.
-
Laksansia
Pada
usia lanjut umumnya
akan terjadi penurunan
motilitas gastrointestinal, yang biasanya dikeluhkan dalam bentuk
konstipasi. Pemberian obat-obat laksansia jangka panjang sangat tidak
dianjurkan, karena di samping menimbulkan habituasi juga akan memperlemah
motilitas usus. Pemberian obat-obat ini hendaknya disertai anjuran agar melakukan diet tinggi serat dan
meningkatkan masukan cairan serta jika mungkin dengan latihan fisik (olah raga)
6.
Profil farmakodinamik
pada geriatric
Perubahan
farmakodinamik
Pasien-pasien
usia lanjut relatif lebih sensitif terhadap aksi beberapa obat dibanding
kelompok usia muda. Hal ini memberi
petunjuk adanya perubahan interaksi farmakodinamika obat terhadap reseptor yang
nampaknya merupakan hasil perubahan farmakokinetika atau hilangnya respons homeostatis.
Mekanisme pengontrol homeostatis tertentu tampaknya juga mulai kehilangan
fungsi pada usia lanjut, sehingga pola atau intensitas respons terhadap obat
juga berubah. Sebagai contoh tekanan
darah rata-rata pada usia lanjut relatif lebih tinggi, tetapi sementara itu
insidensi hipotensi ortostatik
juga meningkat secara menyolok dan juga pula mekanisme pengaturan
suhu juga memburuk dan hipotermia kurang ditoleransi secara baik pada usia
lanjut.
1. Pengaturan
temperatur
Hipotermia tidak diharapkan terjadi
pada pasien geriatri yang mendapat beberapa macam obat. Obat-obatan yang menyebabakan
terjadinya hipotermia diantaranya
benzodiazepine, opoid, alkohol, dan antidepresan trisiklik dapat
menyebabkan sedasi gangguan kepekaan
subjektif terhadap tempratur dan penurunan mobilitas maupun aktivitas.
2. Fungsi
usus dan kandung Kemih
Konstipasi sering muncul pada
geriatri sebagai akibat penurunan motilitas saluran gastrointestinal. Obat-obat
antikolinergik dapat menyebabkan retensi urin pada pasien pria lanjut usia
terutama pasien dengan hipertropi prostat sedangkan pada wanita sering terjadi
disfungsi uretra.
3. Pengaturan
tekanan darah
Pada
pasien geriatri terjadi
penumpukan reflex takikardia
sehingga hipotensi postural merupakan masalah yang sering terjadi pada
pasien geriatri. Hal ini
mengakibatkan obat obatan
dengan efek antihipertensi cenderung menyebabkan masalah pada pasien
geriatri.
4. Keseimbangan
cairan atau elektrolit
Pasien geriatri
mengalami penuruan kemampuan
ekskresi retensi air. Obat-obatan yang menyebabkan retensi
cairan ini diantaranya kortikosteroid dan antiinflamasi non steroid.
5. Fungsi
Kognitif
Pertambahan usia juga akan menurunkan
fungsi sistem saraf pusat yang terjadi akibat perubahan struktur dan kimiawi
saraf. Aktivitas enzim kolinesterase menurun
pada lansia dan
berakibat pada menurunnya
transmisi kolinergik. Transmisi
kolnergik sangat berperan dalam fungsi kognitif normal sehingga obat-obatan
antikolinergik dan hipnotik dapat memperburuk efek tersebut. Lansia yang mengkonsumsi
obat-obatan tersebut akan mengalami kebingungan.
Komentar
Posting Komentar