Uji Efektivitas Anti Inflamasi Ekstrak Bunga Cengkeh (Syzygium aromaticum) terhadap Edema pada Telapak Kaki Tikus Jantan Galur Sprague Dawley yang Diinduksi Carageenan


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang Masalah
Salah satu penyakit yang banyak diderita oleh masyarakat adalah inflamasi atau radang. Inflamasi memiliki angka kejadian yang cukup tinggi. Inflamasi dapat disebabkan oleh trauma fisik, infeksi maupun reaksi antigen dari penyakit; seperti terpukul benda tumpul dan infeksi bakteri pada luka terbuka (timbulnya nanah pada luka) yang dapat menimbulkan nyeri dan dapat mengganggu aktivitas [1].
Inflamasi atau radang merupakan proses respon tubuh terhadap rangsangan yang ditimbulkan oleh berbagai agen berbahaya seperti infeksi, antibodi ataupun luka fisik. Salah satu aktivitas antiinflamasi flavonoid yaitu menghambat akumulasi leukosit di daerah inflamasin[2].
Obat antiinflamasi Non Steroid (OAINS) merupakan onat yang dapat mengurngi inflamasi dan meredakan nyeri melalui dan meredakan nyeri melalui penekanan pembentukan prostaglandin (PG) dengan cara menghambat enzim cyclooxygenase (COX). OAINS merupakan salah satu obat yang paling banyak diresepkan. Berdasarkan survey yang dilakukan di Amerik Serikat, dilaporkan bahwa OAINS digunakan oleh 17 juta orang setiap hari [3].
Cengkeh (Syzigium aromaticum) merupakan salah satu tanaman rempah yang dapat ditemukan di Indonesia dan dimanfaatkan terutama dalam industri rokok, makanan dan obat-obatan. Daun dan buah cengkeh mengandung komponen fenolik yang tinggi yaitu senyawa eugenol masing-masing 70-80% dan 50-55%[4]. Cengkeh merupakan tanaman rempah asli Maluku Utara/Kepulauan Maluku dan telah di perdagangkan serta dibudidayakan secara turun-temurun dalam bentuk perkebunan rakyat. Pemisahan kandungan kimia dari daun cengkeh menunjukkan bahwa daun cengkeh mengandung saponin, alkaloid, glikosida flavonoid dan tannin. Flavonoid adalah salah satu jenis senyawa yang bersifat racun/alelopati, merupakan persenyawaan Dari gula yang terikat dengan flavon. Flavonoid mempunyai sifat khas yaitu bau yang sangat tajam, rasanya pahit, dapat larut dalam air dan pelarut organik, serta mudah terurai pada temperatur tinggi [5].
Senyawa fitokimia yang terkandung dalam daun sirih merah meliputi alkaloid, saponin, tannin, dan flavonoid (Puruhito dalam Sudewo, 2008). Flavonoid bekerja menghambat fase penting dalam biosintesis prostaglandin, yaitu pada lintasan siklooksigenase. Flavonoid juga menghambat fosfodiesterase, aldoreduktase, monoamine oksidase, protein kinase, DNA polymerase dan lipooksigenase (Robinson, 1995). Tanin diketahui mempunyai aktifitas antiinflamasi, astringen, antidiare, diuretik dan antiseptik (Khanbabaee dan Ree, 2001). Sedangkan aktivitas farmakologi saponin yang telah dilaporkan antara lain sebagai antiinflamasi, antibiotik, antifungi, antivirus, hepatoprotektor serta antiulcer (Soetan, 2006).



1.2  Perumusan Masalah
1.      Apakah kombinasi senyawa antara daun cengkeh dan daun merah sirih dapat digunakan sebagai antiinflamasi ?

1.3  Tujuan Penelitian
1.      Untuk dapat memberikan informasi alternatif kepada masyarakat dalam pengembangan kombinasi obat antiinflamasi dari tanaman cengkeh dan sirih merah.

1.4  Manfaat Penelitian
1.      Menambah pengetahuan tentang khasiat kombinasi tanaman cengkeh dan sirih merah dalam bidang kefarmasian sebagai obat antiinflamasi.















BAB II
STUDI PUSTAKA
1.1  Tinjauan Pustaka
2.1.1 Inflamasi
Inflamasi merupakan respon jaringan terhadap rangsangan fisik atau kimiawi yang merusak. Rangsangan ini akan menyebabkan timbulnya reaksi radang seperti bengkak dan rasa nyeri [¹]. Inflamasi merupakan mekanisme perlindungan diri tubuh untuk menetralisir dari agen-agen asing yang berbahaya.
Gejala – gejala inflamasi anatar lain :
a.       Rasa sakit, yang disebabkan oleh lepasnya bahan sitotoksik dari elemen humoral, seluler dan mikrobial pada ujung syaraf.
b.      Pembengkakan , karena filtrasi makromolekul dan perpindahan cairan menuju jaringan yang luka.
c.       Kemerah-merahan dan panas yang disebabkan karena vasodilatasi dari pembuluh dan aliran darah ke jaringan yang luka.
d.      Gangguan fungsi disebabkan oleh perubahan pada jaringan yang terpengaruh.


2.1.2 Tanaman Cengkeh     
Tanaman cengkeh merupakan tanaman yan berasal dari Maluku. Merupakan perdu yang memiliki batang besar dan berkayu keras. Tinggi mencapai 20-30 meter, bercabang lebat, panjang, dan dipenuhi oleh ranting-ranting kecil yang mudah patah. Daun berbentuk bulat telur, memanjang , ujung dan pangkalnya menyudut, lebar 2-3 cm, panjang daun tanpa tangkai sekitar 7,5-12,5 cm, dan berwarna hijau. Bunga dan buah muncul di ujung ranting, tangkai pendek, dan bertandan. Bunga muda berwarna keunguan, lalu berubah menjadi kuning kehijauan, dan berubah kembali menjadi merah muda jika sudah tua. Bunga kering berwarna cokelat keitaman dan rasa pedas karena mengandung minyak atsiri. [3]
Bunga cengkeh merupakan kuncup bunga Syzygium aromaticum(L.)Merr.& Perry., sinonim Eugenia caryophyllus ( Spreng.) Bullock et Harison, Eugenia caryophyllata Thunb., Eugenia aromatica (L.)Labill., dari suku Myrtaceae yang memiliki ciri-ciri berwarna coklat, bau aromatik kuat, rasa agak pedas. Bunga cengkeh biasa digunakan sebagai anestetika gigi, karminatifa, zat tambahan dan aromatik. Kandungan dari bunga cengkeh antara lain Sterol/terpen, flavonoid, asam gallotanin, kariofilen, vanilin, eugenin, gum, resin dan minyak atsiri yang mengandung senyawa fenol yang sebagian besar terdiri dari eugenol bebas dan sedikit eugenol asetat, seskuiterpena, sejumlah kecil ester keton dan alkohol [4]  .
Bahan aktif ekstrak bunga cengkeh yang berpengaruh terhadap pembentukan pembuluh darah kapiler adalah flavonoid, saponin, dan tannin. Meskipun demikian tidak berarti kandungan utama dalam bunga cengkeh yaitu eugenol tidak berpengaruh dalam pembentukan pembuluh darah kapiler. Eugenol berperan sebagai antiseptik dan antiinflamasi yang berfungsi untuk mencegah terjadinya infeksi dan juga mempersingkat masa inflamasi, sehingga dapat segera memasuki fase proliferasi yang merangsang pembentukan pembuluh darah kapiler baru [ 5 ] .
Bunga cengkeh biasanya digunakan dalam bentuk sediaan kering. Bunga cengkeh kering memiliki kandungan minyak atsiri sekitar 10-20% yang berasal dari proses penyulingan [6] . Hasil samping dari proses penyulingan bunga cengkeh kering menghasilkan ampas bunga cengkeh, yang diduga masih mempunyai fungsi farmakologik. Hal itu dikarenakan ampas bunga cengkeh memiliki kandungan senyawa kimia yang tidak larut oleh uap air pada saat proses penyulingan. Salah satu senyawa kimia tersebut adalah asam oleanolat. Asam oleanolat dapat dihasilkan setelah melakukan proses ekstraksi dan fraksinasi ampas bunga cengkeh [7] . Asam oleanolat merupakan salah satu komponen tripenoid pentasikilik yang memiliki beberapa fungsi farmakologik seperti antiinflamasi, antidiabetagenik, antifungal, antiviral (termasuk HIV), dan antihepatotoksik [8]

            2.1.3 Caragaeenan
Carageenan berperan dalam membentuk edema pada model inflamasi akut yang digunakan sebagai agen penginduksi karena dapat menstimulasi pelepasan prostaglandin setelah disuntikkan ke hewan uji. Oleh karena itu, karagenin dapat digunakan sebagai iritan dalam metode uji yang bertujuan untuk mencari obat-obat antiinflamasi, tepatnya yang bekerja dengan menghambat sintesis prostaglandin[9].

            2.1.4 Tikus
Hewan percobaan yang biasa digunakan dalam penelitian ilmiah adalah tikus. Tikus digunakan sebagai hewan uji dalam penelitian karena memiliki hubungan kekerabatan yang dekat dengan manusia, yaitu termasuk ke dalam kelas mamalia. sehingga, tikus sering dijadikan sebagai model penelitian aplikasi kesehatan manusia. Tikus yang digunakan dalam penelitian adalah galur Sprague Dawley dengan jenis kelamin jantan dewasa, yaitu berumur minimal kurang lebih 2 bulan. Tikus Sprague Dawley dengan jenis kelamin betina tidak digunakan karena kondisi hormonal yang sangat berfluktuasi pada saat mulai beranjak dewasa, sehingga dikhawatirkan akan memberikan respon yang berbeda dan dapat mempengaruhi hasil penelitian. Tikus putih galur ini memiliki daya tahan terhadap penyakit dan cukup agresif dibandingkan dengan galur lainnya [10]


1.2  Landasan Teori
Inflamasi atau yang biasa disebut dengan peradangan merupakan suatu hal yang sering terjadi di masyarakat. Peradangan terjadi akibat adanya luka atau infeksi mikroba, virus. Adanya reaksi imun pada manusia akan menyebabkan timbulnya suatu peradangan (inflamasi) sebagai reaksi perlindungan terhadap luka maupun infeksi mikroba tersebut . Inflamasi atau peradangan ini dapat diatasi dengan obat anti inflamasi.  Obat antiinflamasi merupakan golongan obat yang memiliki efek untuk menekan atau mengurangi peradangan. Aktivitas ini dicapai melalui berbagai cara yaitu menghambat migrasi sel-sel leukosit ke daerah radang, menghambat pelpasan prostaglandin dari sel-sel tempat pembentukannya [11] .
Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS) merupakan salah satu obat yang paling banyak diresepkan dan digunakan oleh masyarakat untuk mengobati inflamasi dan menurani nyeri. Obat AINS merupakan obat yang dapat mengurangi inflamasi dan meredakan rasa nyeri melalui penekanan pembentukan prostaglandin (PG) dengan cara menghambat enzim cyclooxygenase (COX).
Mekanisme kerja obat golongan AINS yaitu dengan menghambat biosintesis prostaglandin ketika prostaglandin dilepaskan saat terjadi kerusakan sel. Obat-obat tersebut tidak menghambat pembentukan mediator inflamasi lain atau leukotrien. Enzim pertama dalam jalur pembentukan prostaglandin adalah prostaglandin G/H sintetase, atau yang dikenal dengan nama siklooksigenase (COX). Enzim ini mengubah asam arakidonat (AA) menjadi Prostaglandin G2 (PGG2) dan Prostaglandin H2 (PGH2), yang akan diubah menjadi tromboksan A2 (TXA2) dan bentuk prostaglandin lainnya. Dosis terapeutik OAINS menurunkan biosintesis prostaglandin dengan menghambat COX, dan terdapat korelasi antara potensi sebagai penghambat COX dan aktivitas antiinflamasi [12]
Penggunaan obat AINS sebagai antiinflamasi memang banyak digunakan oleh masyarakat dan telah terbukti efektivitasnya dalam mengobati inflamasi. Namun, penggunaan obat AINS juga dapat menyebabkan penyakit tukak lambung melalui mekanisme aksinya pada COX-1. Sehingga, diperlukan suatu obat lain dimana memiliki efektivitas anti inflamasi namun tidak menimbulkan suatu efek samping yang berarti. Ekstrak bunga cengkeh memiliki kandungan asam oleanolat yang merupakan salah satu komponen tripenoid pentasikilik yang memiliki beberapa fungsi farmakologik sala satunya adalah antiinflamasi. Sehingga bahan alam seperti ekstrak bunga cengkeh menjadi salah satu alternatif lain dalam pengobatan inflamasi yang relatif aman.



1.3  Hipotesis
Ekstrak bunga cengkeh (Syzygium aromaticum) dapat mengobati inflamasi pada tikus yang telah di induksi dengan Carageenan.






































BAB III
METODE PENELITIAN
3.1  Alat dan Bahan
Alat
Alat yang digunakan dalam percobaan kali ini adalah alat tulis, kandang hewan uji, labu ukur, plethysmometer, spuit oral, stopwatch, timbangan analitik, timbangan hewan.

Bahan
Bahan yang digunakan dalam percobaan kali ini adalah aquadestilata, Asam Mefenamat, carageenan, ekstrak bunga cengkeh, kertas timbang, needle, spuit injeksi.

3.2  Skema Kerja Penelitian
Text Box: 18 Tikus diacak dalam 6 kelompok
 


Text Box: Kelompok perlakuanText Box: Kelompok kontrol
 



Text Box: Perlakuan IIText Box: Perlakuan IIIText Box: Perlakuan IText Box: Kontrol Negatif (-)Text Box: Kontrol Positif (+)Text Box: Normal

 



                                                                                                       

Text Box: Diukur volume telapak kakinya dan diberi bahan uji/akuades secara per oral.

 


Text Box: Satu jam kemudian dilakukan injeksi 0,1 ml karagenin 1% secara subplantar.

 






Text Box: Pada tiap kelompok, dihitung rerata volume telapak kaki tikus (X) dan persentase penghambatan edema dengan menggunakan rumus :
% penghambatan edema = (1 – ) x 100 %
Text Box: Dilakukan pengukuran volume edema telapak kaki pada masing-masing kelompok
Text Box: Kontrol positif dengan pemberian asam mefenamat 12,6 mg/200 g BBText Box: Di lakukan perlakuan pada masing-masing hewan uji
Text Box: Dilakukan pengukuran volume edema
telapak kaki tiap jam hingga jam keenam







Text Box: Perlakuan III dengan ekstrak bunga cengkeh dosis 75 mg/200 g BBText Box: Perlakuan II dengan ekstrak bunga cengkeh dosis 50 mg/200 g BBText Box: Perlakuan I dengan ekstrak bunga cengkeh dosis 25 mg/200 g BBText Box: Kontrol negatif dengan pemberian aquadest 5 ml






















3.3  Cara Penelitian
3.3.1        Uji Pendahuluan
Pengambilan ekstrak daun cengkeh :
Pembuatan ekstrak dilakukan dengan cara maserasi, proses ekstraksi simplisia menggunakan 1 bagian simplisia dalam 10 bagian cairan penyari etanol 96%, dengan bantuan pengocokan atau pengadukan. Setelah itu disaring dan dipekatkan dengan vakum rotavapor pada suhu kurang dari 50o C hingga diperoleh suatu ekstrak kental. Selanjutnya ekstrak dibuat dalam konsentrasi 1%, 10% dan 20% dengan cara diencerkan dengan larutan phosphat buffer saline.
                        Pengambilan ekstrak daun sirih merah :
Daun sirih merah segar dibersihkan dengan air bersih yang mengalir, dikeringkan dengan diangin-anginkan kemudian diserbuk. Serbuk daun yang telah kering dimaserasi dengan menggunakan metanol sebanyak 7,5 kali berat serbuk selama 24 jam dan diulang 3 kali. Maserat dikumpulkan, kemudian pelarut diuapkan menggunakan rotavapor sehingga diperoleh ekstrak metanol kental. Ekstrak kental dikeringkan dalam oven, sehingga didapatkan ekstrak metanol kering
Pembuatan larutan carageenan :
Sebanyak 0,1gram karagenin ditimbang, dilarutkan dalam larutan fisiologis NaCl sampai 10 ml (larutan fisiologis NaCl 0,9 %).

3.3.2        Uji Farmakologi
Penelitian ini adalah penelitian eksperimental. Sampel dibagi menjadi enam kelompok yang terdiri dari masing-masing 3 tikus jantan galur Sprague dawley, antara lain:
a.       Kelompok 1          : normal (tanpa diberi perlakuan)
b.      Kelompok 2          : kontrol positif dengan pemberian asam  
  mefenamat 12,6 mg/200 g BB
c.       Kelompok 3          : kontrol negatif  dengan pemberian akuades
  5 ml
d.      Kelompok 4          : perlakuan dengan pemberian ekstrak  bunga
  cengkeh 25%; ekstrak daun sirih merah 75%
  (25mg;75mg)
e.       Kelompok 5          : perlakuan dengan pemberian ekstrak bunga
  cengkeh 50%; ekstrak daun sirih merah 50%
  (50mg;50mg)
f.        Kelompok 6          : perlakuan dengan pemberian ekstrak bunga
Cengkeh 75%; ekstrak daun sirih merah 25% (75mg;25mg)

Awalnya, setiap sampel diukur volume telapak kakinya dan diberi bahan uji/akuades secara per oral. Satu jam kemudian dilakukan injeksi 0,1 ml carageenan 1% secara subplantar. Selanjutnya, tiap jam dilakukan pengukuran volume edema telapak kaki hingga jam keenam setelah induksi radang. Pada tiap kelompok, dihitung rerata volume telapak kaki tikus (X) dan persentase penghambatan edema dengan menggunakan rumus (Mogosan dan Munteanu, 2008).
Text Box: % penghambatan edema = (1 – ) x 100 %



3.4  Penentuan Parameter Farmakologi
Volume kaki tikus diukur dengan cara kaki tikus yang telah ditandai sebatas mata kaki dicelupkan ke dalam air raksa pada pletismometer. Volume udem merupakan selisih kaki tikus sebelum dan sesudah diradangkan. Volume udem dihitung dari selisih volume kaki tikus setelah dan sebelum diinjeksi dengan karagenin 1% pada waktu tertentu.

3.5  Analisis Hasil

Data hasil penelitian akan dianalisis menggunakan program pengolah data statistik. Karena penelitian ini merupakan komparatif numerik lebih dari dua kelompok tidak berpasangan maka digunakan uji one way ANOVA yang memiliki syarat bahwa data harus berdistribusi normal (Uji normalitas) dan memiliki varian yang sama (Uji homogenitas). kemudian dilanjutkan dengan uji LSD untuk melihat perbedaan antar perlakuan signifikan (p<0,05) atau tidak signifikan (p>0,05) (Esvandiary et al., 2007). 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MASKER GEL PEEL-OFF DARI LENDIR BEKICOT (Achatina Fulica) DIGUNAKAN SEBAGAI PELEMBAB KULIT WAJAH

GERIATRI

Sistem Informasi Manajemen